GuidePedia

0

Oleh:
Martinus  Agustinus Ghedodeghe
Aktivis Koperasi Tinggal di Malapedho Inerie Ngada Flores NTT

Perhelatan  Lokakarya Nasional dan Open Forum  Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Tahun Buku 2017  telah berlangsung  sukses di Palembang  Sumatera Selatan mulai 2 Mei sampai 6 Mei 2018. Tanggal 7 Mei 2018  satu persatu para utusan dari primer-primer  seluruh Indonesia telah kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Pertanyaan refleksif yang pantas untuk direfleksikan setelah tiba kembali di tempat tugas adalah, apa yang  Anda dapatkan dari Loknas dan Open Forum tersebut?

Berbiaya Besar
Dengan nada bangga Ketua Pengurus Inkopdit V. Joko Susilo menyampaikan kepada Menteri Koperasi dan UKM  bahwa para peserta  dari seluruh Indonesia  datang ke Palembang dengan biaya sendiri. Lalu pernyataan V Joko Susilo disambut dengan tepuk tangan meriah. Tentu para peserta sangat paham bahwa yang dimaksudkan dengan biaya sendiri bukanlah  biaya yang dikeluarkan dari kantongnya  sendiri. Tentu yang dimaksudkan  dengan biaya besar itu  dikeluarkan  oleh  Puskopdit  atau Primer tempat ia bekerja dan mengabdikan diri. Artinya, itu adalah uang anggota yang disisihkan dari SHU  untuk kepentingan peningkatan  sumber daya manusia.

Biaya  peserta tergantung dari jarak tempuh. Untuk  peserta dari daratan  Sumatera  atau Jawa  tentu lebih murah dibandingkan dengan dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT  dan Maluku. Biaya  peserta itu terdiri dari  transportasi  udara, akomodasi selama beberapa hari di  Palembang ( disetor ke Panitia  Inkopdit) dan uang  saku. Bayangkan  berapa besar biaya seorang peserta  dari Maluku  atau NTT?  Seorang peserta  dari NTT  memaparkan, biaya  yang harus dikeluarkan  untuk ke Loknas dan Open Forum Inkopdit di Palembang cukup besar. Transportasi udara pergi pulang, biaya akomodasi dan uang saku  bisa mencapai Rp 10 juta perorang. Jadi  helatan Lokakarya Nasional dan Open Forum  ini  sungguh mahal. Tetapi harus dicatat  bahwa  untuk pendidikan  dan peningkatan sumber daya manusia, memang harus mahal.

Kurang Menghargai
Sayangnya, peserta  Lokakarya Nasional dan Open Forum  kurang menghargai  uang  yang telah dikeluarkan oleh Puskopdit atau Primer  yang mengirimnya ke Palembang. Banyak yang datang ke kegiatan  Inkopdit di Palembang itu  tanpa membawa  semangat  besar untuk belajar. Pada hal, yang  dipercayakan sebagai pembicara  di Lokakarya Nasional  maupun Open Forum  adalah  para pakar  yang  bukan saja  semata-mata mentransfer ilmu kepada peserta  tetapi juga menyampaikan pengalamannya  membangun Credit Union  di Indonesia. Para tokoh seperti Robby Tulus, Trisna Ansarli dan lain-lain tentu  sudah dikenal  oleh para  aktivis koperasi Indonesia.

Kurang menghargai “uang”  dan kesempatan untuk belajar itu ditunjukkan sebagian peserta Lokakarya dan Open Forum  selama kegiatan berlangsung. Misalnya  sekedar datang  ke Hotel Horison tempat kegiatan berlangsung  lalu  saat kegiatan sedang berlangsung ia keluar dari ruangan  menikmati rokok di ruang loby sampai  saat coffee break. Banyak yang  tidak menghargai  pembicara  yang ditunjukkan dengan sikap  keluar  sebelum session berakhir. Atau  saat Coffee break dan makan siang atau makan malam, setengah jam  sebelum session berakhir  setengah dari peserta  sudah  meninggalkan ruangan. Lebih parah lagi  ada peserta yang  tidak mengikuti kegiatan dan memilih “jalan-jalan”  atau berbelanja.

Perlu Selektif
Pihak  Puskopdit atau Primer yang mengirim peserta ke Lokakarya Nasional dan Open Forum Inkopdit  perlu selektif. Hanya mereka yang benar-benar berniat untuk belajar yang  dikirim dengan biaya lembaga.  Mereka yang  kurang disiplin  sebaiknya tidak dikirim karena tak akan  memberikan nilai positif bagi perkembangan lembaga.  Regulasi  penentuan peserta pun harus diatur. Misalnya  dengan melakukan  test  membuat  laporan  sebuah kegiatan, contoh laporan kegiatan rapat anggota. Dengan demikian  pihak pengurus yang mengirim bias mengukur  kemampuannya untuk menyerap ilmu yang akan ditawarkan oleh Lokakarya Nasional dan Open Forum.

Para peserta  diwajibkan untuk membuat laporan dan mempresentasikannya kepada  staf manajemen yang belum mendapatkan kesempatan mengikuti.  Hasil laporan tertulis antara peserta yang satu dengan yang lainnya  tidak boleh sama. Laporan  yang dibuat harus  sesuai dengan yang ia  dengar atau rasakan. Cara ini  dilakukan agar para peserta  serius  mengikuti  kegiatan  yang  “berbiaya besar”  itu.  Persyaratan ini juga bertujuan agar  muncul kesadaran dari peserta untuk menhargai kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Pengurus  dan menghargai uang  anggota yang telah disisihkan untuk  kegiatan pendidikan.

Kiranya para peserta Lokakarya Nasional dan Open Forum Inkopdit  di masa mendatang  jauh lebih  berkualitas. Kita mestinya jangan bangga dengan jumlah peserta yang sampai menembus angka ribuan. Juga jangan bangga  kepada primer yang mampu mengirim peserta  sampai sepuluh atau duapuluh orang. Yang harus kita bangga adalah, dengan jumlah peserta yang sedikit tetapi berkualitas  dan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang bermanfaat bagi pertumbuhan Gerakan Koperasi Kredit Indonesia. Sampai jumpa di Bali pada Lokakarya Nasional dan Open Forum Inkopdit Tahun Buku 2018. Bravo Koperasi Kredit Indonesia.***
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar

 
Top